
Jakarta Timur, DKI Jakarta – Paguyuban Majapahid turut serta memeriahkan Pujawali ke-100 Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, dengan menyajikan gunungan hasil bumi yang memukau. Partisipasi ini menjadi bagian dari perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 8 Februari 2025, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Suasana khidmat dan semarak mewarnai perayaan Pujawali ke-100 Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, yang mencapai puncaknya pada Sabtu, 8 Februari 2025, bertepatan dengan Hari Raya Saraswati. Di antara rangkaian upacara dan ritual yang sakral, hadir sebuah pemandangan yang memukau dan sarat makna: gunungan hasil bumi persembahan dari Paguyuban Majapahid.
Paguyuban Majapahid, yang merupakan akronim dari Manunggal Jawa Dwipa Hindu Dharma, adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berdedikasi untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya Jawa yang selaras dengan ajaran Hindu Dharma. Keikutsertaan Paguyuban Majapahid dalam Pujawali Pura Adhitya Jaya bukan sekadar partisipasi seremonial, melainkan wujud nyata dari komitmen mereka untuk menghidupkan kembali kearifan lokal Jawa dalam konteks spiritualitas Hindu yang universal.
Pura Adhitya Jaya Rawamangun menjadi pusat perhatian umat Hindu di DKI Jakarta dan sekitarnya dalam perayaan Pujawali ke-100. Paguyuban Majapahid, dengan semangat melestarikan budaya Jawa, ambil bagian dengan membuat gunungan yang tersusun indah dari berbagai hasil bumi. Gunungan hasil bumi ini dipersembahkan saat upacara Pujawali dimulai pada sore hari hingga acara selesai. Setelah rangkaian upacara, gunungan yang berisi hasil bumi itu dibagikan kepada umat Hindu yang hadir di Pura Adhitya Jaya Rawamangun sebagai prasadam. Keikutsertaan Paguyuban Majapahid ini menambah semarak perayaan dan mempererat tali persaudaraan antarumat beragama.
Gunungan, dalam tradisi Jawa, adalah tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung. Bentuknya yang menjulang tinggi melambangkan kelimpahan rezeki dan kemakmuran yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Setiap jenis hasil bumi yang digunakan memiliki makna simbolis tersendiri, mencerminkan keberagaman dan kekayaan alam Indonesia. Dalam konteks Pujawali, gunungan menjadi perwujudan rasa syukur umat Hindu atas segala berkat yang telah diterima, sekaligus permohonan agar kelimpahan dan kemakmuran senantiasa menyertai kehidupan mereka.
Gunungan hasil bumi tersebut dipersembahkan dalam sebuah prosesi sakral yang khidmat saat upacara Pujawali berlangsung. Setelah melalui serangkaian ritual dan doa, gunungan tersebut didoakan dan diyakini telah menyerap energi positif dari para dewa dan leluhur. Pada akhir upacara, gunungan tersebut dibagikan kepada umat Hindu yang hadir sebagai prasadam, makanan suci yang diyakini membawa berkah dan keberuntungan. Pembagian prasadam ini menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong, di mana umat Hindu saling berbagi rezeki dan kebahagiaan.
Lebih dari sekadar persembahan visual yang indah, partisipasi Paguyuban Majapahid dalam Pujawali Pura Adhitya Jaya memiliki tujuan yang lebih mendalam, yaitu meningkatkan Sradha dan Bhakti umat Hindu. Sradha berarti keyakinan yang teguh terhadap ajaran agama Hindu, sedangkan Bhakti berarti pengabdian dan cinta kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui persembahan gunungan dan partisipasi aktif dalam upacara Pujawali, Paguyuban Majapahid berharap dapat menginspirasi umat Hindu untuk semakin memperdalam pemahaman tentang agama mereka, serta meningkatkan rasa cinta dan pengabdian kepada Sang Pencipta.
Sebelumnya, Paguyuban Majapahid Nusantara juga menggelar acara Gebyar Seni Nusantara di Wantilan Pura Mustika Dharma Cijantung, Jakarta Timur, pada Minggu (10/12/2023). Tujuan acara ini adalah untuk menggali kembali ajaran leluhur Hindu Jawa.
Keikutsertaan Paguyuban Majapahid dalam Pujawali Pura Adhitya Jaya bukanlah satu-satunya upaya mereka dalam melestarikan budaya Jawa. Sebelumnya, paguyuban ini juga telah menggelar berbagai acara yang berorientasi pada pelestarian budaya dan spiritualitas Jawa, seperti Gebyar Seni Nusantara di Wantilan Pura Mustika Dharma Cijantung, Jakarta Timur, pada Minggu (10/12/2023). Acara ini bertujuan untuk menggali kembali ajaran leluhur Hindu Jawa yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal.
Partisipasi Paguyuban Majapahid dalam perayaan keagamaan seperti Pujawali Pura Adhitya Jaya tidak hanya memperkaya khazanah budaya Hindu, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi terciptanya harmoni dan toleransi antarumat beragama. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, Paguyuban Majapahid menjadi agen perubahan yang aktif dalam membangun masyarakat yang inklusif dan berbudaya.
Peristiwa Pujawali Pura Adhitya Jaya dengan partisipasi Paguyuban Majapahid memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana spiritualitas dan budaya dapat berjalan beriringan, saling memperkuat dan memperkaya. Melalui pelestarian dan pengembangan budaya Jawa yang selaras dengan ajaran Hindu Dharma, Paguyuban Majapahid telah membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi sumber inspirasi dan kekuatan dalam menjalani kehidupan yang bermakna dan harmonis. Semoga semangat ini terus menyala dan menginspirasi generasi mendatang untuk terus menjaga dan merawat warisan budaya bangsa.
