Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan Umat Hindu di Tengger, Jawa Timur.

Malang – Upacara agama Hindu di Tengger merupakan bagian dari tradisi spiritual yang kaya akan nilai-nilai budaya dan filosofi yang sangat mendalam. Sebagai masyarakat Hindu yang tinggal di lereng Gunung Bromo, masyarakat Tengger menjalankan berbagai upacara dengan nuansa yang sangat khas, yang berbeda dari upacara di Bali maupun daerah lainnya. Salah satu upacara besar yang dilaksanakan di Tengger adalah Hari Raya Galungan.

Upacara Galungan di Tengger dimulai dengan persiapan yang sangat teliti, yang mencakup pembuatan sesaji khas Tengger. Masyarakat Tengger tidak menggunakan banten seperti di Bali yang penuh dengan warna-warni janur, tetapi mereka lebih mengutamakan penggunaan sesaji yang berbahan dasar lokal, seperti buah-buahan segar, nasi tumpeng, dan hasil pertanian setempat. Persiapan ini melibatkan hampir seluruh keluarga yang terlibat dalam menyusun sesaji, membuat rangkaian bunga, dan mendekorasi rumah dengan kain khas Tengger.

Pada hari pelaksanaan, rangkaian upacara dimulai dengan mupuk pedagingan atau persembahan pertama untuk menghormati leluhur dan dewa-dewa. Kemudian dilanjutkan dengan upacara penyucian yang dilakukan oleh pemangku adat setempat. Dalam prosesi ini, para peserta membawa sesaji ke tempat suci yang ada di sekitar desa, biasanya di pura yang terletak di lereng gunung, dan menyalakan api untuk memurnikan hati dan pikiran. Upacara diakhiri dengan potong tumpeng, sebuah simbol ucapan syukur atas hasil bumi yang melimpah, yang dilakukan oleh tokoh masyarakat atau pemimpin adat.

Untuk melaksanakan upacara Galungan di Tengger, terdapat beberapa elemen penting yang harus dipersiapkan. Sesaji yang digunakan tidak hanya sebagai sarana persembahan, tetapi juga sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Sesaji yang disiapkan berupa hasil bumi, bunga, buah-buahan, serta nasi tumpeng yang memiliki makna sebagai simbol kehidupan dan keberkahan. Di Tengger, sesaji juga mencakup nasi jagung yang merupakan makanan pokok masyarakat setempat, serta daun-daun suci yang dianggap memiliki kekuatan spiritual.

Selain itu, perlengkapan ritual lainnya seperti lontar (daun lontar) yang digunakan sebagai media doa dan cendera mata yang dibawa ke pura juga merupakan bagian yang sangat penting dalam upacara. Persiapan ini dilakukan dengan penuh ketelitian, karena setiap elemen yang digunakam memiliki makna filosofis yang dalam, baik dalam kaitannya dengan kepercayaan Hindu Tengger maupun keselarasan hidup dengan alam sekitar. Walaupun kedua daerah ini sama-sama mempraktikkan agama Hindu, ada perbedaan mencolok dalam pelaksanaan upacara antara Bali dan Tengger. Salah satu perbedaan utama terletak pada penggunaan banten. Di Bali, banten berupa janur kunir dan aneka warna sering digunakan dalam setiap upacara, mencerminkan berbagai aspek kehidupan dan hubungan manusia dengan Tuhan. Namun, di Tengger, banten lebih sederhana dan cenderung menggunakan bahan-bahan alami yang lebih mudah ditemukan di sekitar mereka, seperti buah-buahan segar dan bunga lokal.

Selain itu, dalam hal tempat pelaksanaan, masyarakat Bali seringkali melaksanakan upacara di pura yang terletak di tengah desa atau di tempat yang dianggap suci, sementara di Tengger, upacara seringkali dilakukan di sekitar pura-pura yang tersebar di lereng Gunung Bromo. Lingkungan alam yang berbeda ini turut mempengaruhi pelaksanaan upacara dan filosofi yang terkandung di dalamnya.

Dalam liputan ini, kami juga mewawancarai Bapak Sunarto, selaku Ketua POKDARWIS Desa Ranupani. Menurut Bapak Sunarto, upacara Galungan di Tengger bukan hanya tentang memperingati kemenangan Dharma atas Adharma,tetapi juga sebagai momen untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam. “Kami tidak hanya mempersembahkan makanan dan bunga kepada Tuhan, tetapi juga mengingatkan diri kami untuk menjaga keseimbangan alam, karena Gunung Bromo adalah bagian dari kehidupan kami,” ujar Bapak Putra.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *